Benarkah Aku Anak Hasil Dari Inseminasi..?

Amel masih melek di balik selimut tebalnya itu. Malam selarut ini, dia masih saja susah untuk memenjamkan matanya. 


Dalam benak gadis mungil itu menyelinap bayangan kebahagian. Bayangan itu akan nyata esok hari. Esok hari, ayahnya akan mengajak Amel belanja kesebuah Supermarket yang jauh di tengah kota.

Amel pernah mendengar dari teman bermainnya.

“Supermarket itu,tempat belanja orang kaya.”

Kata Mila.

“Orang seperti kamu, tidak akan sangup membeli barang di Supermarket itu”
  sambung Mila menjelaskan.

 Mila sahabat sekaligus tetangga Amel itu memang cerewet, maklumlah anak orang kaya yang mencari ketenangan hidup di desa. 

Saat itu Amel paham, kalau ayahnya memang tak sanggup mengajaknya belanja di Supermarket itu. 

Sedangkan Mila, anak saudagar kaya. Setiap hari keluar masuk Supermarket  hanya untuk membeli susu bubuk kesukaan Mila.

Walau pun Amel masih berusia sembilan tahun, dia tahu betul, kenapa ayahnya berani mengajaknya belanja ke Supermarket itu besok. Amel tahu, kalau ayahnya baru saja mendapat uang, uang hasil panen jagung.

 “Kita belanja ke Supermarket besok, Nak.” 

Kata ayahnya. Itulah sebabnya kenapa malam itu mata Amel susah terpejam di balik selimut itu. Karena besok ia hendak belanja ke Supermarket.

 Tempat belanjanya orang kaya.
Sesekali senyumnya mengembang di balik selimut itu. Mungkin Amel tak sanggup menanggungkan kebahagiaan luar biasa itu, tanpa ibu.
 
Saat moment kebahagian itu hadir, Dia ingat pada ibunya yang entah dimana, senyumnya yang mengembang di balik selimut itu, seketika berubah menjdi cemberut. Dua butir air,  menyelinap di bawah pelupuk matanya yang tebal itu.

Tanpa ibu, ternyata kurang genap rasanya kebahagiaan ini, kata batinya mengeluh. Meskipun besok dia dan ayahnya akan membeli baju lebaran  di Supermarket itu, tanpa ibu di sampingnya, tetap saja kebahagiaan itu tersa tak sempurna bagi Amel. 

***
Sebelum matahari tampak nongol di ufuk Barat, Amel telah bangun dan mempersiapkan sarapan pagi untuk ayahnya.

Sepotong kue kering, dan segelas kopi hangat telah terhidang di atas meja tua yang lapuk itu. KemudianAmel melangkah menuju beranda rumahnya. Dia membawa sebuah cermin tua peninggalan ibunya. 

Di atas sebuah kursi berlengan terbuat dari rotan, ia duduk dan melihat-lihat wajahnya di cermin tua persegi empat itu.

Rambut panjangnya tampak basah. Matanya masih bulat bersih. Kulitnya sawomatang masih seperti sedia kala.

Dia harus tampil cantik pagi ini. Tampil layaknya orang kaya yang belanja di Supermarket. Maklumlah Amel orang desa yang kesehariannya hanya dapat melihat rumput dan sawah ladang di sekitar rumahnhnya.

“Amel sudah siap?”

 tanya ayahnya dari balik pintu. 

“Sudah ayah.” 

Sahut Amel dengan senyum mengembang sembari menganggukkan kepalanya. Amel belum puas, dia ingin tahu kenapa beli baju kali ini mesti jauh ke kota besar. 

Sementara tidak berapa jauh dari desanya ada juga orang jualan baju, terbesit dalam hatinya.
 “Ayah! Kenapasih kita harus belanja ke Supermarket?” 

tanya Amel. Gadis polos itu tidak tahu samasekali , bahwa ayahnya merindukan ibunya. Ibunya bekerja di Supermarket itu sebagai kasir. 

 Selama ini, ayahnya tak pernah bercerita tetang ibunya. Setiap kali ia tanyakan pada ayahnya. 

Ayahnya hanya diam dan berkata, 
“Nanti juga Amel akan tahu sendiri, kalau udah gede.” 

Kata ayahnya. Sejak itu Amel malas menanyakan perihal ibunya itu.
Ayah dan ibu Amel bercerai sejak Amel masih usia satu tahun setengah. 

0 Response to "Benarkah Aku Anak Hasil Dari Inseminasi..?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel